Dibaca :

Jumat, 09 Maret 2012

Anak Papua Bersuara Di Lorong Panggung

Anak Papua Bersuara Di Lorong Panggung

Oleh: Arkilaus Baho

Lorong Panggung, sebuah panggung yang di prakarsai oleh Serikat Kebudayaan Masyarakat Indonesia ( SEBUMI ) ini, untuk pergelaran ke dua setelah perdana, dengan judul suara anak Papua. Dengan di pandu oleh Host Ibob Susu menghadirkan salah seorang narasumber, yang tidak lain pejuang Papua sekaligus pemilik blogger ini. Diskusi yang santai dan penuh dengan humor ini berlangsung di bawah guyuran hujan lebat. 

Menurut penggagas pentas ini, bahwa muncul ide untuk memperkenalkan para pejuang rakyat lewat panggung di sebuah lorong itu. Bagaimana dan kenapa seorang pejuang, baik pejuang seni maupun aktivis, terkupas dengan tuntas disini. Dari perjalanannya hingga ide-ide revolusi di bongkar. Panggung yang bertempat di areal warung atau lesehan Burjo yang bertempat di salah satu lorong jalan di Babarsari Yogyakarta merupakan tempat yang strategis, di tengah perkampungan, diskusi seputar isu-isu politik, ekonomi dan kebudayaan di kemas dalam sebuah panggung yang begitu enak di dengar dan pokoknya santau. 

Penggung yang mirip politik berkomedi ini sebenarnya simpel saja. Terinspirasi dari berbagai panggung yang tenar di Indonesia, baik di layar kaca televisi maupun di gedung-gedung mewah, Sebumi hadir dengan kemasan kebudayaan versi perjuangan rakyat. Politik kebudayaan diangkat dan di kelola dengan cerdas, maka lahirlah suatu arena yang disebut lorong panggung, numpang tenar. 

Perlu di ketahui, perdana lorong pangung sudah dilakukan, dan kali ini Lorong Pangung#2 di adakan pada hari kamis 8 Maret 2012, jam 8 malam dan berakhir jam 10 Malam. Suara Anak Papua Numpang Tenar menghadirkan Arkilaus Baho sebagai narasumber. Kali ini, diskusi pun membongkar persoalan Papua. Host Acara ini membukanya dengan mencerca sepak terjang pejuang Papua yang di hadirkan di podium. Lalu kemudian mencerca kondisi terkini Papua, lalu terakhir di tutup dengan membongkar gerakan rakyat Papua masa kini di tengah arus peningkatan modal.

Kawan Arki yang hadir sebagai narasumber membagi masalah Papua kedalam bentuk nyata. Restorasi modal yang meningkat di Papua mengakibatkan sejumlah persoalan di Papua menjadi rumit untuk di tuntaskan, begitu ceritera arki mengawali diskusi tersebut. Sedangkan sepak terjang perjuangan yang dia lakukan bersama gerakan rakyat Papua, terlebih pada apa yang bikin kawan satu ini terus berjuang, anda bisa klik pada kolom pemilik blogger ini.

Ibob Susu sebagai host memberi isyarat bahwa persoalan yang di jelaskan kawan arki tak begitu jauh dengan permasalahan rakyat yang di alami rakyat di luar Tanah Papua. Dengan di bantu grub musik numpang tenar; numpang....tenar. Nyonyor memainkan alat musik keroncong, situasi pun menjadi santai. Sedikit tegang begitu narasumber membuka tabir persoalan politik Papua yang sampai sekarang mengalami dominasi globalisasi yang meninggi.

Tiga dominasi kapital internasional di Papua, dibedah juga pada cara lorong panggung ini. Kekuatan rockefeller bersaudara yang punya freeport menguasai sumber daya alam Papua di bidang emas dan tembaga. Lalu datang lagi kekuatan British Council yang menguasai usaha minyak dan gas bumi. Kemudian kekuatan baru yang menguasai perkebunan yaitu grub Binladen. Tiga pemodal ini menghabisi suprastruktur di Papua. 

Penjelasan tersebut bikin gerah kawan-kawan yang hadir. Salah satu peserta yang juga seniman rakyat, Kirun mempertanyakan apa hubungan keterlibatan pemerintah Indonesia dengan hadirnya tiga bandit internasional di Papua. Lalu di jawab oleh narasumber bahwa posisi pemerintah di Papua sama seperti bendera merah putih yang hanya di jadikan taplak ( sambil menunjuk meja di didepan yang taplak mejanya merah putih ). Pemerintah hanyalah boneka saja. Banyak yang bilang menjaga keutuhan NKRI, tetapi nyatanya para jenderal justru jaga perusahaan. 

Untuk apa aku berbakti, kalau hanya untuk babi..., oh itulah lagu selingan pada lorong panggung. Dan seperti itulah, kenapa lorong panggung di adakan di sini. Untuk menjelaskan kepada semua yang menyimak acara ini bahwa buat apa aku percaya kalau sudah tak suka. Lorong panggung...3x hadir menyampaikan apa yang sesungguhnya terjadi dan dialami rakyat berbagai wilayah di Indonesia.
Perdana Lorong Panggung

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.